Stmikkomputama.ac.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dispekulasikan meninggal dunia, menyusul minimnya tampil di publik pekan ini. Namun, spekulasi itu terpatahkan setelah beredar foto Trump bersama cucunya Kai Trump di Gedung Putih.
Melansir New York Post, Trump difoto mengenakan polo putih, celana hitam, dan topi merah khas MAGA sekitar pukul 8:45 pagi waktu setempat, muncul bersama Kai saat mereka menaiki kendaraan menuju klub golfnya di Sterling, Va.
Kecurigaan bahwa presiden telah meninggal dunia muncul pada hari Jumat, ketika Gedung Putih merilis jadwal kosong tanpa acara publik bagi presiden selama akhir pekan Hari Buruh.
“Jadwal tersebut muncul empat hari setelah penampilan publik terakhir Trump, yaitu pada rapat kabinet hari Selasa, demikian dikutip dari nypost.com, Minggu (31/8/2025).
Hiatus ini memicu munculnya tagar “#TrumpIsDead” dan “#WhereIsTrump“, yang menjadi tren di X sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi.
“Bangun tidur dengan #TrumpIsDead dan #whereistrump mengingatkan saya bahwa JD “Popekiller” Vance akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu bersama Don...” tulis Rick Wilson dari Lincoln Project di X pada hari Sabtu, merujuk pada Paus Fransiskus yang meninggal tak lama setelah bertemu dengan wakil presiden tersebut pada bulan April.
Meskipun presiden tidak terlihat secara fisik oleh wartawan Gedung Putih pada hari Jumat, Trump menggunakan Truth Social, memposting tentang putusan pengadilan banding federal yang menyatakan agenda perdagangan tarifnya ilegal.
“SEMUA TARIF MASIH BERLAKU! Hari ini Pengadilan Banding yang Sangat Partisan keliru menyatakan bahwa Tarif kami harus dihapus, tetapi mereka tahu Amerika Serikat akan menang pada akhirnya,” ujarnya. “Jika Tarif ini dihapuskan, itu akan menjadi bencana besar bagi Negara. Itu akan melemahkan keuangan kita, padahal kita harus kuat.”
Saring sebelum Sharing:
Dari kabar yang terbukti sebagai hoaks itu, kita bisa mengambil pelajaran untuk memeriksa, memverifikasi, dan berpikir kritis tentang informasi sebelum membagikannya di media sosial atau platform lainnya, guna mencegah penyebaran berita bohong (hoaks), informasi palsu, atau ujaran kebencian yang dapat meresahkan masyarakat.
Cara Menyaring Informasi:
1. Periksa Sumber Informasi: Pastikan informasi berasal dari sumber yang kredibel dan dapat dipercaya, bukan dari akun atau situs yang tidak jelas.
2. Verifikasi Fakta: Gunakan situs pengecek fakta seperti TurnBackHoax.id, CekFakta.com, atau fitur pemeriksa fakta yang tersedia di platform.
3. Baca Isi, Bukan Hanya Judul: Judul sering dibuat untuk menarik perhatian (clickbait), jadi baca keseluruhan isi berita untuk memahami maksud sebenarnya agar tidak salah menafsirkan.
4. Gunakan Logika, Tahan Emosi: Jika konten memicu emosi seperti marah atau panik, berhenti sejenak. Renungkan apakah informasi tersebut layak dibagikan dan tidak hanya bertujuan membuat keresahan.
5. Pertimbangkan Manfaat: Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah informasi ini berguna bagi orang lain?” atau “Apakah akan membawa manfaat atau justru memperkeruh suasana?”.
6. Cek Keaslian Gambar/Video: Jika ada gambar atau video, periksa keasliannya menggunakan fitur pencarian gambar terbalik seperti Google Images.
7. Waspadai Tanda Hoaks: Perhatikan ciri-ciri informasi palsu seperti tata bahasa yang buruk, klaim yang tidak masuk akal, atau sumber yang tidak jelas.
Pentingnya “Saring Sebelum Sharing”:
- Mencegah Penyebaran Hoaks: Membantu mengurangi jumlah berita bohong yang beredar dan meresahkan masyarakat.
- Membangun Media Sosial yang Sehat: Menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan positif.
- Meningkatkan Literasi Digital: Membantu masyarakat menjadi lebih cerdas dan kritis dalam mengonsumsi serta membagikan informasi.
- Menjaga Citra Diri dan Orang Lain:
Tidak membagikan informasi yang sensitif atau dapat merendahkan orang lain atau kelompok tertentu.
Sumber Referensi:
- https://nypost.com/2025/08/30/us-news/president-trump-is-alive-and-well-after-online-rumors-of-his-death/
*Penulis adalah jurnalis, membantu di Media Center STMIK Komputama Cilacap