Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Profil Gus Yahya Ketua Umum PBNU

Unikma.ac.id – Beberapa waktu terakhir ini nama Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) banyak dibicarakan […]

Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf. (Foto: SS @tvnu.id)


Unikma.ac.id – Beberapa waktu terakhir ini nama Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) banyak dibicarakan publik menyusul gonajng-ganjing di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Namun, yang kita bicarakan kali ini bukanlah soal gonjang-ganjing di tubuh NU itu.
Sepertinya lebih menarik mengulas profil Gus Yahya, yang bagi sebagian masyarakat Indonesia masih belum cukup dikenal. Pun bagi anak muda dan mahasiswa.
Bagi sebagian lainnya, terutama kalangan nahdliyin, Gus Yahya bukanlah orang baru. Dia sudah lama berkecimpung di kepengurusan NU dan aktif sebagai pegiat kemanusiaan. Gus Yahya juga pernah menjadi juru bicara Gus Dur, saat menjabat presiden.

Profil Gus Yahya

Biodata dan Pendidikan
Merujuk situs nu.or.id dan Wikipedia, Gus Yahya adalah ketua umum PBNU periode 2021-2026. Dia terpilih dalam pemilihan Muktamar ke-34 NU di Universitas Lampung, Bandar Lampung pada 24 Desember 2021.
Gus Yahya lahir 16 Februari 1966, di Rembang, Jawa Tengah. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU saat menginjak usia 55 tahun. Ia merupakan putra dari KH Cholil Bisri, kakak dari KH Ahmad Mustofa Bisri.
Gus Yahya mengenyam pendidikan pertama kali di pondok pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah yang didirikan oleh kakeknya, KH Bisri Mustofa.
Ia pun melanjutkan studi pesantrennya di Pondok Pesantren Krapyak di bawah asuhan KH Ali Ma’shum. Ia juga pernah mengenyam Pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Kiprah di Nahdlatul Ulama

Kiprah Yahya Cholil Staquf di NU adalah sebagai Katib ‘Aam PBNU masa khidmat 2015-2020. Kemudian, pada Muktamar ke-34 NU di Bandar Lampung, Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Kiprah di Politik dan Pemerintahan

Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid. Kemudian pada 31 Mei 2018, Gus Yahya dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu Dewan Pertimbangan Presiden di Istana Negara, Jakarta.

Kiprah di Kancah Global

Pada tahun 2014, Gus Yahya tercatat sebagai salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yaitu Bait ar-Rahmah li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-‘Alamin yang mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.

Ia juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama di Amerika Serikat-Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama dan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Gus Yahya juga pernah didaulat sebagai utusan Pimpinan Pusat GP Ansor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD), dan European People’s Party (EPP). Selain itu, American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan di sana danmenawarkan gagasan bernas.

Gus Yahya sering didaulat menjadi pembicara internasional di luar negeri. Seperti pada Juni 2018, Yahya menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel. Dalam forum ini, Gus Yahya menyuarakan menyerukan konsep rahmat, sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang disebabkan agama. Ia menawarkan perdamaian dunia melalui jalur-jalur penguatan pemahaman agama yang damai.

Pada 15 Juli 2021, Gus Yahya mendapatkan apresiasi tinggi dari tokoh-tokoh perdamaian dunia dalam perhelatan International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, D.C., Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan pidato kunci dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).

Pada hari ketiga konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut Gus Yahya mendapat apresiasi dari tokoh-tokoh dunia. Gus Yahya menjelaskan bahwa dinamika bangkitnya nasionalisme religius merupakan bagian metode untuk pertahanan ketika suatu kelompok agama yang biasanya merupakan mayoritas di negaranya merasa terancam secara budaya.

Menurut Gus Yahya, kebangkitan ini pun tidak terelakkan lantaran dunia tengah bergulat dalam persaingan antar-nilai untuk menentukan corak peradaban pada masa depan. Selain itu, dinamika internasional telah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur.

Pihaknya mempertegas bahwa persaingan yang sengit ini berpotensi besar memicu permusuhan dan kekerasan. Maka dari itu, Gus Yahya mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara untuk mengelolanya sebelum telanjur meletus konflik global yang kian parah.

*Penyusunan artikel dengan bantuan AI

Penulis: Tim Humas Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo

Sumber:

  • nu.or.id – https://www.nu.or.id/nasional/terpilih-sebagai-ketua-umum-pbnu-2021-2026-ini-profil-gus-yahya-l6SxY
  • Wikipedia – https://id.wikipedia.org/wiki/Yahya_Cholil_Staquf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *