Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Profil dan Jejak Perjuangan Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal Baret Merah Penumpas G30S/PKI

Unikma.ac.id – Sebanyak 10 tokoh bangsa dari berbagai latar belakang dan daerah yang berbeda dianugerahi […]

Sarwo Edhie Wibowo Pahlawan Nasional. (Foto: Wikimedia Commons/Unikma.ac.id)


Unikma.ac.id – Sebanyak 10 tokoh bangsa dari berbagai latar belakang dan daerah yang berbeda dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, tepat di Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025. Penganugerahan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah acara yang penuh khidmat.

Di antara nama tersebut, adalah Jenderal (Purn) TNI Sarwo Edhie Wibowo. Bagi sejarawan dan pecinta sejarah, sosok Sarwo Edhie tidaklah asing. Nama Sarwo Edhie Wibowo mencuat usai peristiwa G30S/PKI.

Kala itu beliau adalah Komandan Resimen Pasukan Komando (RPKAD), atau Kopassus saat ini. Sarwo Edhie dan pasukannya menjadi tulang punggung dalam penumpasan PKI.

Kepemimpinannya dalam menumpas G30S dan pengabdiannya di berbagai bidang menjadikannya salah satu tokoh militer paling berpengaruh di abad ke-20. Kini, namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional, simbol keberanian dan pengabdian tanpa pamrih kepada tanah air.

Berikut ini adalah profil dan jejak perjuangannya untuk Indonesia, melansir Wikipedia, Minggu (10/11/2025).

Profil Sarwo Edhie Wibowo

Nama Lengkap: Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo
Tempat, Tanggal Lahir: Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1927
Wafat: 9 November 1989 (usia 62 tahun)
Tempat Dimakamkan: Pemakaman keluarga di Kampung Ngupasan, Kelurahan Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah
Jabatan Terakhir: Ketua BP-7 Pusat
Gelar Kehormatan: Pahlawan Nasional (dianugerahkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025)

Awal Kehidupan

Sarwo Edhie Wibowo lahir dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini, yang berasal dari keluarga pegawai negeri di masa pemerintahan kolonial Belanda. Sejak kecil ia diberi nama Edhie, namun karena sering sakit-sakitan, sesuai adat Jawa, namanya ditambah menjadi Sarwo Edhie agar membawa keberkahan dan kekuatan.

Setelah menikah, ia menambahkan nama keluarga menjadi Sarwo Edhie Wibowo.

Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Sarwo Edhie tumbuh sederhana. Ia bergaul dengan anak-anak desa dan tidak diajarkan untuk membeda-bedakan status sosial. Sejak muda ia gemar belajar silat sebagai bentuk pertahanan diri. Kekagumannya terhadap militer mulai tumbuh saat melihat pasukan Jepang yang berhasil mengalahkan sekutu di kawasan Asia dan Pasifik.

Pada masa pendudukan Jepang (1942), ia pergi ke Surabaya untuk mendaftar sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA). Namun, ia merasa kecewa karena tugas-tugasnya lebih banyak bersifat fisik dan kasar, seperti membersihkan dan mengurus fasilitas perwira Jepang, tanpa latihan militer sejati.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Meskipun batalion yang ia bentuk sempat bubar, semangat militernya tak padam. Atas dorongan teman sekampungnya, Ahmad Yani, Sarwo Edhie kemudian bergabung dengan batalion di Magelang, Jawa Tengah.

Karier Militer

Sarwo Edhie menapaki karier militer dengan cepat. Ia dikenal sebagai perwira tegas, disiplin, dan berintegritas tinggi. Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya antara lain:

  • Komandan BatalionDivisi Diponegoro (1945—1951)
  • Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951—1953)
  • Wakil Komandan Resimen Akademi Militer Nasional (1959—1961)
  • Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962—1964)
  • Komandan RPKAD (1964—1967)

Sebagai komandan RPKAD (kini Kopassus), Sarwo Edhie ditunjuk oleh Ahmad Yani yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Di bawah kepemimpinannya, RPKAD berkembang menjadi pasukan elit dengan disiplin tinggi.

Peran dalam Penumpasan Gerakan 30 September (G30S)

Nama Sarwo Edhie Wibowo mencuat setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Saat enam jenderal diculik dan dibunuh oleh kelompok G30S, termasuk sahabatnya Ahmad Yani, Sarwo Edhie memimpin pasukan RPKAD untuk menumpas gerakan tersebut.

Atas instruksi Mayor Jenderal Soeharto, ia memimpin operasi perebutan kembali RRI, gedung telekomunikasi, dan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma — markas para pelaku G30S. Pada 4 Oktober 1965, pasukan Sarwo Edhie menggali dan menemukan jenazah para jenderal di Lubang Buaya.

Setelah itu, ia diberi tugas oleh pimpinan Angkatan Darat untuk menumpas jaringan PKI di daerah-daerah. Operasi ini menimbulkan dampak besar, karena menyebabkan jatuhnya ratusan ribu korban jiwa dalam rangkaian pembasmian simpatisan komunis di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, dan Sumatra.

Peran dalam Transisi Orde Lama ke Orde Baru

Pada awal 1966, ketika gejolak politik meningkat dan muncul tuntutan mahasiswa (KAMI) terhadap Presiden Soekarno, Sarwo Edhie menjadi salah satu tokoh militer yang dekat dengan gerakan mahasiswa. Bersama Kemal Idris, ia memberi dukungan moral dan perlindungan terhadap para mahasiswa yang menuntut pembubaran PKI.

Pada 11 Maret 1966, pasukannya mengepung Istana Negara saat rapat kabinet, yang kemudian berujung pada keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) — yang menjadi tonggak awal peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.

Setelahnya, ia dipercaya menjadi Panglima Kodam II/Bukit Barisan (1967) di Sumatra, dan kemudian Panglima Kodam XVII/Cendrawasih di Irian Barat. Di sana ia memimpin pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang menjadi dasar integrasi Papua ke wilayah Indonesia.

Karier Setelahnya

Setelah masa operasi militer, Sarwo Edhie dipercaya menduduki sejumlah jabatan penting:

  • Gubernur AKABRI (1970-an)
  • Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan
  • Ketua BP-7 Pusat, lembaga yang berperan dalam pembinaan ideologi Pancasila

Dalam seluruh kariernya, Sarwo Edhie dikenal tegas, disiplin, dan patriotik. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta kesetiaan pada bangsa dan negara.

Kehidupan Pribadi

Sarwo Edhie menikah dengan Sunarti Sri Hadiyah binti Danu Sunarto. Dari pernikahan ini lahir tujuh anak:

  1. Widjiasih Tjahjasasi
  2. Wirahasti Tjendrawasih
  3. Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono)
  4. Mastuti Rahaju
  5. Pramono Edhie Wibowo
  6. Retno Tjahjaningtyas
  7. Hartanto Edhie Wibowo

Menantunya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi Presiden ke-6 Republik Indonesia. Putranya, Pramono Edhie Wibowo, juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Penghargaan

Sarwo Edhie Wibowo meninggal duniapada 9 November 1989 di usia 62 tahun karena sebab alami. Ia dimakamkan di tanah kelahirannya, Purworejo, Jawa Tengah.

Atas jasa-jasanya dalam menjaga keutuhan dan keamanan negara, Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie Wibowo — sebuah pengakuan resmi atas dedikasi dan pengorbanannya bagi Republik Indonesia.

Penulis: Tim Humas Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo

Sumber:

  • Wikipedia-https://id.wikipedia.org/wiki/Sarwo_Edhie_Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *