Perjalanan El Bayan dari Surau Tempat Santri Mengaji Jadi Perguruan Tinggi

Waktu berjalan, zaman pun berubah. Akan tetapi, keberadaan lembaga pendidikan tinggi semacam universitas atau perguruan tinggi masih terpusat di kota besar.
Imbasnya, anak-anak pedesaan, termasuk santri-santri di pedesaan, kesulitan untuk mengaksesnya. Sebab, selain biaya pendidikan, terdapat biaya variabel yang mesti ditanggung, seperti kos atau akomodasi.
Di sini lain, pendidikan Indonesia masih mendikotomi atau membedakan pendidikan informal seperti pondok pesantren atau madrasah, dengan pendidikan formal setara sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Oleh sebab itu, Yayasan El Bayan Majenang berupaya menggabungkan keduanya. Yayasan yang berada di Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ini berupaya menyediakan pendidikan informal dan formal sekaligus.
Riwayat El Bayan terlacak sejak 1930-an di Dusun Bendasari Desa Padangsari, Kecamatan Majenang sebagai surau kecil yang berfungsi juga sebagai tempat mengaji anak-anak atau santri di sekitarnya. Lantas, bertahun-tahun kemudian berdirilah pondok pesantren yang lantas bernama El-Bayan
Tuntutan zaman memacu El-Bayan untuk terus berbenah. Salah satunya, yakni dengan menyediakan pendidikan formal yang dimulai dari mendirikan Madrasah Ibtidaiyah atau MI yang setara dengan SD, MTs, MA dan SMK, serta terakhir ini, perguruan tinggi, dengan berdirinya Sekolah Tinggi Manajamen Ilmu Komputer atau STMIK Komputama Majenang.
Ketua Yayasan El Bayan Majenang, KH DR Fathul Amin Aziz, bercerita butuh perjuangan panjang mendirikan sekolah tinggi ini. Butuh waktu 15 tahun, mulai dari mengurus perizinan hingga mendirikan gedung STMIK.
“Justru SMK Komputama itu sebetulnya niatnya mendirikan perguruan tinggi. Tapi karena yang keluar SMK, kita jalankan dulu,” dia berkisah, Sabtu, 20 Oktober 2018.
SMK Komputama berdiri pada 2005 untuk mempermudah anak desa dan santri mengakses sekolah berbasis keahlian. Dan kini, sudah ada tiga sekolah berdiri dengan nama Komputama, mulai dari SMK Komputama Majenang, SMK Komputama Jeruklegi dan SMK Komputama, Pesahangan, dengan sekitar 1.500-an siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *