Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Panduan Analisis Kebutuhan dan Ideasi, dari Wawasan Menjadi Solusi

Unikma.ac.id – Anda telah menyelesaikan riset pengguna. Anda memiliki tumpukan rekaman wawancara, catatan observasi, dan […]

Dari Wawasan Menjadi Solusi. (Foto: Gemini/Unikma.ac.id)


Unikma.ac.id – Anda telah menyelesaikan riset pengguna. Anda memiliki tumpukan rekaman wawancara, catatan observasi, dan mungkin data survei. Kini, Anda menghadapi tantangan terbesar: “Apa makna dari semua data ini?” dan “Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”

Raw data (data mentah) bukanlah wawasan (insight). Proses untuk mengubah data mentah menjadi wawasan disebut analisis kebutuhan, dan proses mengubah wawasan menjadi solusi disebut ideasi. Artikel ini akan mengupas tiga teknik fundamental yang menjembatani kesenjangan antara riset dan desain: Affinity Diagramming, User Journey Mapping, dan Brainstorming.

Analisis Kebutuhan (Sintesis): Memahami “Apa”

Tujuan dari analisis kebutuhan adalah untuk menyaring kebisingan dan menemukan pola yang jelas dari data kualitatif Anda.

Teknik Kunci 1: Affinity Diagramming (Diagram Afinitas)

Affinity Diagramming (juga dikenal sebagai Affinity Mapping) adalah metode “bottom-up” untuk mengorganisir sejumlah besar data kualitatif (seperti kutipan pengguna, observasi, atau ide) ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan hubungan alaminya (afinitas).

Mengapa ini penting? Metode ini memaksa tim untuk menemukan tema yang muncul secara organik dari data, alih-alih memaksakan kategori yang sudah ada sebelumnya. Ini adalah cara demokratis untuk mengubah kekacauan data menjadi hierarki wawasan yang terstruktur.

Bagaimana Caranya:

  1. Ekstrak Data: Tulis setiap kutipan, fakta, atau observasi penting dari riset Anda ke satu sticky note (catatan tempel). Satu sticky note = satu data.
  2. Tempel di Dinding: Letakkan semua sticky note di dinding atau papan tulis besar secara acak.
  3. Kelompokkan (Diam-diam): Tanpa berbicara, seluruh anggota tim mulai memindahkan dan mengelompokkan sticky note yang terasa serupa. Jika Anda melihat dua kutipan tentang “bingung saat checkout“, satukan.
  4. Beri Nama Grup: Setelah kelompok-kelompok stabil, diskusikan bersama dan beri nama untuk setiap kelompok. Nama ini harus merangkum tema inti dari grup tersebut (misalnya: “Kekhawatiran Keamanan Pembayaran”, “Kesulitan Menemukan Produk”).
  5. Hasil: Anda kini memiliki tema-tema utama (wawasan) yang didukung langsung oleh bukti dari pengguna.
  1. Analisis Kontekstual: Memahami “Kapan” dan “Di Mana”

Setelah Anda tahu apa masalahnya, Anda perlu memahami di mana dan kapan masalah itu terjadi dalam pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Teknik Kunci 2: User Journey Mapping (Pemetaan Perjalanan Pengguna)

User Journey Map adalah visualisasi dari pengalaman seorang pengguna (persona) dari waktu ke waktu saat mereka berinteraksi dengan produk atau layanan Anda untuk mencapai tujuan tertentu.

Mengapa ini penting? Produk jarang digunakan dalam isolasi. Pengalaman pengguna adalah sebuah cerita yang memiliki awal, tengah, dan akhir. Journey Map mengungkap konteks dan emosi dari cerita tersebut. Ini menyoroti titik kritis (touchpoints), rasa sakit (pain points), dan peluang (opportunities) yang mungkin terlewatkan jika Anda hanya melihat satu fitur saja.

Komponen Utama User Journey Map:

  1. Persona: Siapa yang melakukan perjalanan ini?(Gunakan persona dari riset Anda).
  2. Skenario & Tujuan: Apa yang ingin mereka capai? (Misal: “Memesan penerbangan untuk liburan”).
  3. Tahapan (Stages): Fase-fase utama dari perjalanan. (Misal: Penemuan, Pertimbangan, Pembelian, Perjalanan, Pasca-perjalanan).
  4. Tindakan (Actions): Apa yang pengguna lakukan di setiap tahap? (Misal: “Mencari di Google”, “Membandingkan harga”).
  5. Pikiran (Thoughts): Apa yang pengguna pikirkan? (Misal: “Apakah ini harga terbaik?”).
  6. Perasaan (Emotions): Bagaimana perasaan mereka? Ini sering digambarkan sebagai kurva emosi (senang, netral, frustrasi).
  7. Pain Points & Opportunities: Di mana letak frustrasi (titik terendah kurva emosi) dan di mana ada peluang untuk perbaikan?

Ideasi: Memecahkan Masalah “Bagaimana”

Setelah Anda mengidentifikasi “apa” masalahnya (dari Affinity Diagram) dan “di mana” masalah itu terjadi (dari Journey Map), saatnya menghasilkan solusi.

Teknik Kunci 3: Teknik Brainstorming

Brainstorming adalah teknik kreativitas kelompok yang paling terkenal, yang dirancang untuk menghasilkan sejumlah besar ide dalam waktu singkat. Namun, agar efektif, brainstorming harus terfokus.

Aturan Emas Brainstorming (Divergent Thinking):

  1. Tunda Penilaian: Tidak ada ide bodoh. Kritik dan evaluasi dimatikan sepenuhnya.
  2. Kejar Kuantitas: Semakin banyak ide, semakin baik. Tujuannya adalah untuk “mengosongkan otak”.
  3. Dorong Ide Liar: Ide yang gila dan di luar nalar seringkali memicu ide lain yang praktis namun inovatif.
  4. Membangun di Atas Ide Lain: Gunakan ide anggota tim lain sebagai batu loncatan (“Ya, dan…”).

Bagaimana Menghubungkannya: Jangan hanya melakukan brainstorming tentang “fitur baru”. Gunakan wawasan Anda!

  • Ambil Pain Point dari Journey Map Anda (misal: “Pengguna merasa cemas menunggu konfirmasi pesanan”).
  • Ubah menjadi pertanyaan “Bagaimana Jika Kita…” (How Might We…).
  • Contoh: “Bagaimana jika kita bisa membuat pengguna merasa tenang dan terinformasi setelah mereka menekan tombol ‘Beli’?”
  • Sekarang, lakukan brainstorming untuk menjawab pertanyaan spesifik tersebut.

Kesimpulan: Alur Kerja dari Data ke Desain

Ketiga teknik ini bukanlah aktivitas yang terisolasi. Mereka membentuk alur kerja yang logis:

Riset Pengguna (Data Mentah) → Affinity Diagramming (Mengorganisir data menjadi Wawasan/Tema) → User Journey Map (Menempatkan wawasan dalam Konteks dan menemukan Pain Points) → Brainstorming (Menghasilkan Solusi untuk Pain Points spesifik).

Dengan mengikuti proses ini, Anda memastikan bahwa solusi desain Anda tidak hanya kreatif, tetapi juga berakar kuat pada kebutuhan nyata dan terverifikasi dari pengguna Anda.

Penulis: Muhtyas Yugi, M.Kom, dosen Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo

Referens:

  • Orji, I. K., & E, O. (2024). A systematic literature review on user journey mapping in service design: A comprehensive analysis of process, application, and benefits. Journal of Service Management, 35(1), 84-118.
  • Ghazali, R., et al. (2022). A Systematic Review on Data Analysis in Qualitative Research for Requirements Elicitation. IEEE Access, 10, 115049-115064.
  • Hass, R. W. (2023). Brainstorming. Thinking Skillsand Creativity, 49, 101344.
  • He, Z., et al. (2023). A data-driven method for mapping customer journey and identifying key touchpoints in the service process. Behaviour & Information Technology, 42(15), 2378-2395.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *