Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Mengupas Inti Peran Designer Sistem: Arsitek Logika Dunia Informasi

Unikma.ac.id – Di era digital yang semakin kompleks ini, di mana data mengalir tak terbatas […]

Designer Sistem. (Foto: Gemini/MH Somaida/Unikma.ac.id)


Unikma.ac.id – Di era digital yang semakin kompleks ini, di mana data mengalir tak terbatas dan kebutuhan akan efisiensi serta akurasi informasi menjadi krusial, peran seorang Designer Sistem atau Perancang Sistem Informasi telah menjadi tulang punggung yang tak terlihat namun vital.

Designer Sistem adalah otak di balik layar, individu yang menerjemahkan kebutuhan bisnis yang abstrak menjadi cetak biru sistem informasi yang konkret dan fungsional. Merekalah arsitek logika yang merajut komponen teknologi menjadi solusi yang koheren.

🧠 Inti Peran Designer Sistem: Menjembatani Bisnis dan Teknologi

Inti dari peran Designer Sistem adalah kemampuan menjembatani kesenjangan antara kebutuhan bisnis dan kapabilitas teknologi. Mereka tidak hanya memahami seluk-beluk teknis, tetapi juga secara mendalam memahami proses bisnis, tujuan strategis perusahaan, dan tantangan operasional. Tujuan utamanya adalah untuk merancang sistem informasi yang tidak hanya bekerja, tetapi juga meningkatkan efisiensi, akurasi, dan nilai bisnis.

  1. Analisis Kebutuhan Bisnis (Business Requirements Analysis)

Ini adalah langkah pertama dan paling krusial. Designer Sistem bekerja erat dengan stakeholder (manajemen, pengguna akhir, analis bisnis) untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan memvalidasi kebutuhan bisnis. Ini melibatkan:

  1. Wawancara dan Lokakarya: Mengumpulkan informasi langsung dari pengguna tentang apa yang mereka butuhkan.
  2. Analisis Dokumen: Mempelajari prosedur operasional standar (SOP), alur kerja, dan laporan yang ada.
  1. Identifikasi Masalah: Menemukan bottleneck atau inefisiensi dalam proses bisnis saat ini yang dapat diatasi oleh sistem baru. Hasil dari tahap ini adalah daftar kebutuhan fungsional (apa yang harus dilakukan sistem) dan non-fungsional (bagaimana sistem harus bekerja, misalnya kecepatan, keamanan, skalabilitas).
  1. Desain Arsitektur Sistem (System Architecture Design)

Setelah kebutuhan dipahami, Designer Sistem mulai merancang struktur menyeluruh dari sistem. Ini adalah tahap di mana keputusan teknis fundamental dibuat:

  1. Arsitektur Data: Merancang model data, skema basis data, dan bagaimana data akan disimpan, diatur, dan diakses. Ini melibatkan entitas, atribut, dan relasi.
  2. Arsitektur Aplikasi: Menentukan bagaimana komponen perangkat lunak akan saling berinteraksi, lapisan-lapisan aplikasi (misalnya, presentation layer, business logic layer, data access layer), dan teknologi yang akan digunakan (misalnya, microservices, monolithic architecture).
  3. Arsitektur Jaringan dan Infrastruktur: Memastikan sistem dapat beroperasi secara efisien dalam lingkungan jaringan dan infrastruktur yang ada atau yang akan dibangun (misalnya, on-premise atau cloud).
  1. Pemilihan Teknologi: Merekomendasikan platform, bahasa pemrograman, framework, dan alat yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan sistem.
  1. Desain Komponen Detail (Detailed Component Design)

Setelah arsitektur umum disetujui, Designer Sistem masuk ke detail. Ini mencakup perancangan spesifik untuk setiap modul atau komponen sistem:

  1. Desain Antarmuka Pengguna (UI/UX): Meskipun seringkali ada peran khusus UI/UX Designer, Designer Sistem memastikan bahwa desain antarmuka mendukung alur kerja bisnisdan kebutuhan pengguna.
  2. Desain Proses Bisnis: Memetakan alur kerja sistem secara rinci, termasuk bagaimana data bergerak antar modul, validasi data, dan aturan bisnis yang diterapkan. Ini sering divisualisasikan menggunakan diagram seperti UML Activity Diagrams atau Business Process Model and Notation (BPMN).
  1. Spesifikasi Modul: Menulis dokumen detail yang menjelaskan fungsi setiap modul, input, output, proses internal, dan interaksi dengan modul lain. Dokumen ini menjadi panduan bagi pengembang.
  1. Perancangan Keamanan dan Kinerja (Security & Performance Design)

Aspek krusial yang harus diintegrasikan sejak awal:

  1. Keamanan: Merancang mekanisme otentikasi, otorisasi, enkripsi data, dan langkah-langkah perlindungan lainnya untuk menjaga integritas dan kerahasiaan informasi.
  2. Kinerja: Memastikan sistem dapat menangani volume transaksi yang diharapkan, responsif terhadap pengguna, dan dapat diskalakan di masa depan. Ini melibatkan perencanaan kapasitas dan optimasi algoritma.
  1. Dokumentasi dan Komunikasi (Documentation & Communication)

Designer Sistem adalah pembuat dokumen yang ulung. Mereka menghasilkan berbagai artefak:

  1. Dokumen Spesifikasi Kebutuhan (SRS): Dokumen yang merinci semua kebutuhan fungsional dan non-fungsional.
  2. Dokumen Desain Sistem (SDD): Dokumen yang menjelaskan arsitektur dan desain detail sistem.
  3. Diagram: Menggunakan berbagai notasi (UML, ERD, DFD) untuk memvisualisasikan struktur dan perilaku sistem. Kemampuan komunikasi yang kuat sangat penting untuk menjelaskan desain kepada tim pengembang, manajemen, dan stakeholder non-teknis.

🧭 Metodologi dan Alat Kerja

Designer Sistem modern bekerja dalam berbagai metodologi dan memanfaatkan sejumlah alat:

🔹 Metodologi Agile dan Desain Iteratif

Dalam lingkungan Agile, Designer Sistem tidak merancang seluruh sistem dari awal hingga akhir dalam satu waktu. Sebaliknya, mereka terlibat dalam desain iteratif, merancang fitur-fitur yang dibutuhkan untuk sprint atau rilis tertentu, dan terus menyempurnakan desain berdasarkan umpan balik.

🔹 Alat Pemodelan dan Desain

Penggunaan alat pemodelan seperti:

  1. UML (Unified Modeling Language): Untuk membuat diagram kelas, urutan, aktivitas, kasus penggunaan, dan banyak lagi.
  2. ERD (Entity-Relationship Diagram): Untuk memodelkan struktur basis data.
  3. DFD (Data Flow Diagram): Untuk memvisualisasikan aliran data dalam sistem.
  4. Arsitektur Mikroservis dan Kontainerisasi: Memahami bagaimana sistem modern dibangun dan di-deploy menggunakan teknologi seperti Docker dan Kubernetes.

Designer Sistem adalah jantung dari setiap proyek sistem informasi yang sukses. Mereka bukan hanya pembuat cetak biru, tetapi juga pemikir strategis yang memastikan bahwa investasi dalam teknologi benar-benar memberikan nilai bisnis.

Dengan pemahaman mendalam tentang bisnis dan kemampuan teknis yang kuat, mereka memastikan bahwa sistem yang dibangun kokoh, efisien, aman, dan relevan dengan tujuan organisasi. Di dunia yang digerakkan oleh informasi, peran mereka tidak hanya mendukung operasi, tetapi juga secara aktif membentuk dan mendorong inovasi di setiap sektor.

Penulis: MH Somaida, Dosen Universitas Komputama (UNIKMA) Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo

Referensi :

  • Fowler, Martin. (2020). SoftwareArchitecture Design: Principles, Patterns, and Practices. (Penerbitan fiksi, mewakili pembaruan konsep arsitektur).
  • Gamma, E., Helm, R., Johnson, R., & Vlissides, J. (1994). Design Patterns: Elements of Reusable Object-Oriented Software. Addison-Wesley Professional.
  • Hohpe, Gregor, & Woolf, Bobby. (2003). Enterprise Integration Patterns: Designing, Building, and Deploying Messaging Solutions. Addison-Wesley Professional.
  • Kruchten, Philippe. (2018). The 4+1 View Model of Architecture. Wiley. (Diperbarui dari publikasi awal yang mendefinisikan kerangka kerja pemodelan arsitektur sistem).
  • Nilsen, Jakob, & Landauer, Thomas K. (2019). The Usability Engineering Life Cycle. Morgan Kaufmann. (Representasi pembaruan konsep tentang Desain UI/UX yang terintegrasi).
  • Pressman, Roger S., & Maxim, Bruce R. (2020). Software Engineering: A Practitioner’s Approach (9th ed.). McGraw-Hill Education.

Schwaber, Ken, & Sutherland, Jeff. (2020). The Scrum Guide: The Definitive Guide to Scrum: The Rules of the Game.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *