3. Stigma Matematika Sebagai Mata Kuliah yang Sulit
Di banyak budaya pendidikan, matematika sering kali digambarkan sebagai mata kuliah yang sangat sulit dan hanya dapat dikuasai oleh orang-orang tertentu. Stigma ini sering kali membuat mahasiswa merasa tertekan dan tidak percaya diri saat menghadapi matematika. Anggapan bahwa matematika hanya untuk orang “pintar” atau “jenius” dapat menghalangi mereka untuk mencoba atau menikmati pembelajaran ini. Oleh karena itu, ketika mahasiswa merasa bahwa mereka tidak akan pernah bisa menguasai matematika, mereka cenderung menghindari atau tidak berusaha sebaik mungkin dalam mata kuliah ini.
4. Metode Pengajaran yang Kurang Menarik
Tidak jarang pengajaran matematika dilakukan dengan metode yang terlalu kaku dan teoritis. Dalam banyak kasus, pengajaran lebih berfokus pada rumus-rumus dan latihan soal yang monoton tanpa menjelaskan bagaimana aplikasi matematika dapat digunakan dalam kehidupan nyata. Metode pengajaran yang seperti ini sering kali membuat mahasiswa merasa bahwa matematika hanya soal menghafal dan mengerjakan soal tanpa memahami tujuan dan manfaatnya. Jika pengajaran dilakukan dengan cara yang lebih aplikatif dan kontekstual, mahasiswa mungkin akan lebih tertarik dan merasa matematika lebih relevan dengan kehidupan mereka.
5. Tantangan Emosional dan Psikologis
Salah satu aspek yang sering diabaikan dalam pembelajaran matematika adalah dampak psikologis dan emosional. Bagi mahasiswa yang kesulitan memahami matematika, rasa frustrasi dan stres bisa sangat tinggi. Ketika mereka merasa bahwa mereka terus gagal, rasa cemas dan takut gagal menjadi semakin mengganggu. Ini bisa memperburuk pengalaman mereka dalam belajar dan semakin menjauhkan mereka dari matematika. Dukungan psikologis yang kurang atau tidak adanya strategi untuk mengatasi stres dan kecemasan matematika dapat membuat mata kuliah Basic Matematika semakin tidak disukai.
6. Kurangnya Motivasi dan Penghargaan
Mata kuliah Basic Matematika sering dianggap sebagai mata kuliah wajib yang tidak memiliki banyak penghargaan langsung terhadap minat atau cita-cita mahasiswa. Mahasiswa lebih tertarik pada mata kuliah yang berkaitan langsung dengan jurusan atau bidang studi mereka. Matematika, yang dianggap sebagai “pelengkap” atau “prasyarat” bagi mata kuliah lainnya, kurang memberikan motivasi yang cukup untuk mahasiswa. Jika mahasiswa tidak melihat nilai atau relevansi langsung dari matematika dalam konteks jurusan mereka, mereka akan merasa tidak termotivasi untuk belajar dengan baik.
7. Kekurangan dalam Latihan dan Praktik
Seperti keterampilan lainnya, matematika membutuhkan latihan yang kontinu dan konsisten untuk dikuasai. Namun, dalam banyak kasus, mahasiswa sering kali tidak diberikan cukup waktu atau kesempatan untuk berlatih dengan cukup, baik itu dalam bentuk soal latihan yang bervariasi atau diskusi kelompok yang produktif. Kekurangan dalam sesi latihan ini bisa menyebabkan mahasiswa merasa kebingungan atau kesulitan ketika menghadapi ujian atau tugas yang berkaitan dengan matematika.
Meskipunbanyak alasan yang dapat menjelaskan mengapa mata kuliah Basic Matematika tidak disukai, hal ini bukan berarti bahwa matematika itu sendiri adalah hal yang buruk atau tidak penting. Matematika memiliki banyak manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pengelolaan keuangan pribadi hingga aplikasi dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.
Untuk mengatasi ketidaksukaan terhadap mata kuliah ini, penting bagi pengajaran matematika untuk lebih aplikatif, kontekstual, dan interaktif, serta memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada mahasiswa yang mungkin merasa kesulitan. Dengan pendekatan yang lebih tepat, diharapkan mahasiswa dapat lebih menghargai dan menikmati pembelajaran matematika.
Nah, kamu sebagai Mahasiswa setuju dengan alasan yang mana nih? Yuk tuliskan di kolom komentar yah!
*Penulis adalah Dosen Kalkulus STMIK Komputama Majenang
Referensi :
1. Sumarno, R. (2018). Matematika untuk Pendidikan Dasar: Suatu Pendekatan Kontekstual. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2. Wahyuni, S. (2020). “Tantangan dalam Pembelajaran Matematika di Perguruan Tinggi.” Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia, 12(1), 59-67.
3. Prasetyo, A. (2021). Mengatasi Ketakutan terhadap Matematika di Kalangan Mahasiswa. Jakarta: Universitas Indonesia Press.









