Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Ahli Geologi Ungkap 4 Penyebab Dominan Longsor di Banyumas Raya

Unikma.ac.id – Bencana tanah longsor terjadi di wilayah Banyumas Raya beberapa waktu terakhir. Bahkan, di […]

Longsor di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap menimbulkan korban jiwa. (Foto: Basarnas Cilacap/Unikma.ac.id)


Unikma.ac.id – Bencana tanah longsor terjadi di wilayah Banyumas Raya beberapa waktu terakhir. Bahkan, di Cilacap longsor menyebabkan korban jiwa massif. Kabar terbaru kejadian longsor adalah wilayah Banjarnegara, yang juga menimbulkan kerusakan massif dan kerugian material maupun nonmaterial.

Selain curah hujan tinggi, tentu ada sejumlah faktor pemicu bencana longsor lainnya. Untuk mengetahui lebih mendalam, berikut ini adalah pandangan Dr. Indra Permana, ST, MT, Ahli Geologi Teknik & Longsoran yang juga anggota IAGI, IABI, MGTI.

Faktor Penyebab Bencana Longsor

1. Faktor dominan: curah hujan tinggi (hidrometeorologi)

Curah hujan ekstrem adalah pemicu langsung pada banyak kejadian longsor yang diamati. Hujan intensif meningkatkan kelembapan tanah, menaikkan tekanan air pori (pore-water pressure), dan mengurangi kohesi serta friksi dalam massa tanah/batuan sehingga lereng kehilangan kestabilan.

Karena curah hujan bersifat alami dan variabilitasnya dipengaruhi sistem klimatologi (termasuk perubahan iklim), kendali manusia terhadap intensitas hujan terbatas — sehingga fokus mitigasi harus pada adaptasi: deteksi dini, pengelolaan air permukaan, dan penguatan struktur lereng untuk menghadapi beban hidrometeorologi.

Implikasi praktis:

  • Sistem peringatan dini curah hujan dan ambang batas kestabilan sangat penting.
  • Desain drainase dan fasilitas pengendalian limpasan harus mampu mengantisipasi hujan ekstrem (peak run-off).
  • Rencana mitigasi harus memasukkan skenario curah hujan yang lebih ekstrem karena perubahan iklim.

2. Faktor alamiah: bentang alam, tanah, dan batuan

Sifat geologi—kemiringan lereng, stratigrafi batuan, tipe tanah (mis. lempung sensitif, pasir longgar), lapisan pelapukan, struktur rekahan—menentukan bagaimana suatu lereng merespon hujan dan gangguan. Zona dengan perlapisan lemah, tanah organik tebal, atau batuan mudah lapuk akan lebih rentan longsor.

Meskipun faktor ini bukan sesuatu yang bisa “diubah” secara alami, rekayasa geoteknik dapat meningkatkan kestabilan (stabilisasi lereng, drainase dalam, penguatan mekanis).

Tindakan teknis yang relevan:

  • Investigasi geologi-terrain terperinci (mapping, bor, SPT/ CPT, uji laboratorium) untuk menentukan parameter kekuatan tanah/batuan.
  • Desain penguatan lereng: perkuatan mekanis (ground anchors, soil nails), struktural (retaining walls, gabion), dan vegetatif (bioengineering).
  • Perbaikan drainase dalam (sub-surface drains, horizontal drains) untuk menurunkan tekanan air pori.

3. Faktor antropogenik: tata guna lahan, pemanfaatan, dan infrastruktur

Pengembangan lahan manusia — pembukaan hutan, pemotongan lereng tanpa rekayasa, pembebanan di puncak lereng, pembangunan jalur di kaki lereng, dan drainase yang buruk — sering mempercepat proses longsor.

Dr. Indra menekankan bahwa masyarakat dan pengembang sering “tidak punya banyak pilihan” sehingga menempuh pembangunan di lokasi berisiko, tetapi hal ini harus diimbangi dengan rekayasa teknis dan kebijakan pengelolaan ruang.

Contoh mekanisme pemicu akibat kegiatan manusia:

  • Excavation (pemotongan) pada badan lereng→ menghilangkan penahan bawah → menurunkan faktur keselamatan.
  • Pembuangan material / sampah pada lereng → menambah beban.
  • Perubahan pola aliran sungai (pengurukan pangkal lereng) → undercutting dan erosi.
  • Drainase permukaan yang diarahkan ke badan lereng → infiltrasi berlebih.

4. Pola spasial kejadian dan lokasi rawan

Berdasarkan observasi, kejadian lokal sering muncul di pinggiran tebing sungai, perbukitan, dan sepanjang jalur aliran sungai — tempat yang secara geomorfologis rentan karena interaksi antara erosi, pengendapan, dan perubahan muka air. Pola kejadian yang berulang pada titik-titik tertentu menciptakan “hotspot” yang layak menjadi prioritas mitigasi.

Rekomendasi pemetaan:

  • Identifikasi hotspot berdasar histori kejadian, peta kemiringan, peta geologi, dan peta penggunaan lahan.
  • Prioritaskan survei geoteknik pada lokasi yang berulang mengalami longsor.

Prinsip mitigasi dan strategi yang disarankan

Dr. Indra menyarankan strategi terpadu yang menggabungkan ilmu kebumian, rekayasa, kebijakan tata ruang, dan partisipasi masyarakat. Pendekatan praktis meliputi:

a. Pengelolaan wilayah hulu-hilir terpadu

  • Riset dan evaluasi pemanfaatan lahan di hulu (deforestasi, alih fungsi lahan) yang mempengaruhi run-off.
  • Intervensi di hulu: konservasi tanah, reboisasi berbasis spesies lokal, terasering, check dam kecil untuk memperlambat limpasan.
  • Intervensi di hilir: kolam retensi, waduk, saluran kontrol, dan normalisasi sungai dengan mempertimbangkan aspek ekologis.

b. Rekayasa struktural dan non-struktural

  • Solusi teknis lereng: drainase permukaan dan subpermukaan, pagar penahan (retaining walls), revegetasi teknis (bioengineering), dan perkuatan mekanis.
  • Solusi hidrologi: kolam retensi lokal untuk mengurangi puncak limpasan, sistem infiltrasi terkontrol.
  • Pengaturan pembangunan: zonasi larangan/ pembatasan di zona berisiko tinggi dan persyaratan teknis untuk pembangunan di zona menengah.

c. Kebijakan, tata ruang, dan regulasi

  • Integrasikan data kerentanan longsor ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan perizinan pembangunan.
  • Standarisasi persyaratan analisis risiko sebelum pengembangan lereng (land subsidence/ slope stability assessment).
  • Mekanisme insentif/penalti untuk mendorong praktik pembangunan aman.

d. Pemberdayaan komunitas & koordinasi lintas-administrasi

  • Pendidikan publik tentang perilaku saat hujan ekstrem, evakuasi, dan pemantauan lokal.
  • Pembentukan forum lintas-desa/kabupaten untuk penanganan hulu-hilir karena kejadian tidak mentaati batas administratif.
  • Pelibatan masyarakat dalam pemantauan (citizen science) dan pemeliharaan struktur mitigasi skala kecil (kolam retensi lokal, vegetasi penahan).

e. Sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan

  • Jaringan stasiun hujan otomatis dan sensor lereng (inclinometer, piezometer) pada titik kritis.
  • Prosedur peringatan berbasis ambang (curah hujan terintegrasi + kondisi tanah).
  • Rencana evakuasi danjalur aman yang diuji secara berkala.

Langkah implementasi praktis (prioritas tindakan)

  1. Identifikasi hotspot melalui pemetaan kerentanan cepat (prioritas 0–6 bulan).
  2. Survei geoteknik terperinci untuk lokasi prioritas (6–12 bulan).
  3. Desain & pemasangan mitigasi teknis skala kecil (drainase, kolam retensi lokal, revegetasi) sambil menyiapkan proyek struktural besar (12–36 bulan).
  4. Integrasi kebijakan: masukkan peta kerentanan ke perizinan dan RTRW (mulai proses segera, mengikat dalam 12–24 bulan).
  5. Bangun sistem pemantauan & peringatan dini (12 bulan+), termasuk SOP operasi darurat.
  6. Program pendidikan & partisipasi masyarakat berkelanjutan.

Penulis: Tim Humas Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo

Sumber:

Pemaparan Dr.Ir. Indra Permana Jati, ST., MT, dipandu Ir. H. Alief Einstein, M.Hum dari kafapet-unsoed.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

content-1212

Mix Parlay


yakinjp

yakinjp

JUDI BOLA ONLINE

rtp yakinjp

yakinjp

Togel Online Resmi

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

news

slot mahjong ways

judi bola online

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

ayowin

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

11001

11002

11003

11004

11005

11006

11007

11008

12001

12002

12003

12004

12005

12006

12007

12008

12009

12010

20001

20002

20003

20004

20005

20006

20007

20008

20009

20010

30001

30002

30003

30004

30005

30006

30007

30008

30009

30010

10236

10237

10238

10239

10240

11010

11011

11012

11013

11014

11015

11017

11018

11019

12011

12012

12013

12014

12015

12016

12017

12018

12019

12020

20011

20012

20013

20014

20015

20016

20017

20018

20019

20020

30011

30012

30013

30014

30015

30016

30017

30018

30019

30020

11020

11021

11022

11023

11024

11025

11026

11027

11028

11029

11030

11031

11032

11033

11034

12021

12022

12023

12024

12025

12026

12027

12028

12029

12030

12031

12032

12033

12034

12035

20021

20022

20023

20024

20025

20026

20027

20028

20029

20030

20031

20032

20033

20034

20035

30021

30022

30023

30024

30025

30026

30027

30028

30029

30030

30031

30032

30033

30034

30035

9041

9042

9043

9044

9045

10196

10197

10198

10200

10201

10202

10203

10204

10205

11035

11036

11037

11038

11039

11040

11041

11042

11043

11044

30036

30037

30038

30039

30040

30041

30042

30043

30044

30045

10191

10192

10193

10194

10195

11045

11046

11047

11048

11049

11050

11051

11052

11053

11054

11055

11056

11057

11058

11059

12036

12037

12038

12039

12040

12041

12042

12043

12044

12045

12046

12047

12048

12049

12050

20036

20037

20038

20039

20040

20041

20042

20043

20044

20045

20046

20047

20048

20049

20050

30046

30047

30048

30049

30050

30051

30052

30053

30054

30055

30056

30057

30058

30059

30060

10176

10177

10178

10179

10180

11060

11061

11062

11063

11064

11065

11066

11067

11068

11069

11070

11071

11072

11073

11074

12051

12052

12053

12054

12055

12056

12057

12058

12059

12060

20051

20052

20053

20054

20055

30061

30062

30063

30064

30065

30066

30067

30068

30069

30070

10086

10087

10088

10089

10090

10091

10092

10093

10094

10095

10096

10097

10098

10099

10100

11000

11001

11002

11003

11004

11005

11006

11007

11008

11009

20056

20057

20058

20059

20060

20061

20062

20063

20064

20065

30071

30072

30073

30074

30075

30076

30077

30078

30079

30080

30081

30082

30083

30084

30085

30086

30087

30088

30089

30090

content-1212