Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Tips Mengelola Kelas Hybrid Matematika ala Universitas Komputama Cilacap

Unikma.ac.id – Pembelajaran hybrid, perpaduan antara tatap muka dan daring, kini menjadi bagian penting dari […]


Unikma.ac.id – Pembelajaran hybrid, perpaduan antara tatap muka dan daring, kini menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan modern. Khusus dalam pembelajaran matematika, model ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan unik: bagaimana menjelaskan konsep abstrak kepada mahasiswa yang hadir secara fisik dan virtual secara bersamaan?

Untuk itu, dosen dan calon pendidik perlu memahami dinamika kelas hybrid agar proses belajar tetap interaktif, terstruktur, dan bermakna.

1. Rancang Alur Pembelajaran yang Simetris bagi Dua Dunia

Kelas hybrid bukan dua kelas terpisah, melainkan satu ruang belajar dengan dua akses.

Mahasiswa online dan offline harus memiliki alur pengalaman belajar yang setara, baik dalam hal materi, aktivitas, maupun evaluasi.

Beberapa strategi yang efektif:

  • Sediakan RPS dan modul digital yang dapat diakses sebelum perkuliahan.
  • Gunakan template penjelasan (rumus → contoh → latihan) agar ritme belajar stabil.
  • Sampaikan instruksi tugas secara tertulis melalui LMS atau grup resmi.

Keteraturan menjadi fondasi penting karena matematika membutuhkan urutan logis yang jelas.

2. Manfaatkan Teknologi Visual dan Kollaboratif

Matematika sangat terbantu oleh visualisasi. Karena itu, kelas hybrid menuntut dosen menggunakan teknologi yang mampu menjembatani dua sisi kelas.

Rekomendasi alat:

GeoGebra Classroom untuk eksplorasi fungsi, grafik, dan geometri secara interaktif.

Microsoft Whiteboard atau Jamboard untuk mencatat proses berpikir.

Kamera dokumen untuk menampilkan tulisan manual kepada mahasiswa daring.

Teknologi bukan sekadar pelengkap, tetapi medium untuk mengubah konsep abstrak menjadi pengalaman visual yang mudah dipahami.

3. Gunakan Metode Breakout Problem Solving

Dosen dapat membagi kelas menjadi kelompok kecil, masing-masing terdiri dari mahasiswa daring dan luring.

Mereka diberi satu masalah matematika untuk didiskusikan selama 5–10 menit, kemudian mempresentasikan hasilnya.

Metode ini efektif untuk:

  • membangun mathematical communication,
  • meningkatkan kerja sama lintas mode,
  • melatih kemampuan menjelaskan konsep dengan bahasa sendiri.

Dengan demikian, kelas hybrid bukan menjadi hambatan, tetapi ruang latihan profesional bagi mahasiswa calon pendidik.

4. Kembangkan Sistem Evaluasi yang Konsisten dan Transparan

Kesalahan umum dalam kelas hybrid adalah memberikan dua bentuk evaluasi yang tidak seimbang.

Gunakan pendekatan evaluasi yang sama, misalnya:

  • kuis live menggunakan Google Form,
  • tugas eksplorasi menggunakan GeoGebra,
  • penilaian sikap melalui forum diskusi LMS,
  • refleksi diri pada akhir sesi.

Dengan begitu, mahasiswa daring dan luring memiliki kesempatan yang adil untuk menunjukkan kompetensi.

5. Jadikan Interaksi sebagai Kunci

Kelas hybrid mudah menjadi pasif bila tidak dirancang secara dialogis.

Dosen perlu menciptakan ritme interaksi yang bergantian:

  • Ajukan pertanyaan kepada mahasiswa daring dan luring secara bergantian.
  • Gunakan fitur raise hand atau polling cepat untuk menjaga keterlibatan.
  • Sisipkan “check-in matematika”: satu soal ringkas yang harus dijawab semua peserta setiap 15–20 menit.

Interaksi yang konsisten menjadikan kelas hybrid lebih hidup dan mengurangi learning gap di antara dua kelompok mahasiswa.

Mengelola kelas hybrid matematika adalah seni yang menggabungkan pedagogi,teknologi, dan kreativitas.

Ketika dosen mampu merancang alur belajar yang setara, memanfaatkan media digital, dan membangun interaksi dinamis, kelas hybrid bukan lagi kompromi, melainkan inovasi.

Sebagai calon pendidik masa depan, mahasiswa perlu memahami bahwa ruang kelas modern tidak lagi dibatasi dinding, tetapi diperluas oleh teknologi.

Ingin belajar bagaimana mengelola kelas digital, merancang media pembelajaran interaktif, dan menjadi pendidik matematika yang relevan di era teknologi?

Mari bergabung bersama Prodi Pendidikan Matematika Universitas Komputama, tempat kreativitas bertemu inovasi!

Referensi:

1. Moore, M. G., & Kearsley, G. (2012). Distance Education: A Systems View of Online Learning. Wadsworth.

2. Panigrahi, R., Srivastava, P. R., & Sharma, D. (2018). “Online learning: Adoption, effectiveness, and opportunities.” Education and Information Technologies.

3. Tall, D. (2013). How Humans Learn to Think Mathematically. Cambridge University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *