Unikma.ac.id – Pernahkah kalian membayangkan bagaimana sebuah aplikasi seperti Gojek, Google Drive, atau Netflix bekerja?
Saat kalian memesan ojek online, aplikasi di HP kalian tidak bekerja sendirian. Dia harus “ngobrol” dengan server untuk mencari driver terdekat, kemudian server itu lagi yang “ngobrol” dengan aplikasi si driver, dan seterusnya.
Nah, percakapan kompleks inilah yang kita sebut sebagai Komunikasi Antar Proses (Inter-Process Communication/IPC) dalam dunia Sistem Terdistribusi. Mari kita kupas lebih dalam tentang bagaimana proses-proses yang tersebar di berbagai komputer ini bisa bekerja sama dengan harmonis.
Apa Itu Sistem Terdistribusi dan Mengapa Mereka Perlu “Ngobrol”?
Sebelum masuk ke cara ngobrolnya, kita pahami dulu konsepnya.
- Sistem Terdistribusiadalah kumpulan komputer independen yang tampak oleh pengguna sebagai satu sistem kohesif tunggal. Singkatnya, beberapa komputer (bisa di lokasi yang berbeda) bekerja sama seolah-olah mereka satu komputer besar.
- Prosesadalah sebuah program yang sedang dijalankan.
Jadi, dalam sistem terdistribusi, banyak proses yang berjalan di banyak mesin yang berbeda. Agar bisa menyelesaikan satu tugas besar (seperti memutar video di Netflix), proses-proses ini harus berkomunikasi untuk bertukar data, koordinasi, dan berbagi sumber daya.
Tantangan Utama dalam “Ngobrol” Jarak Jauh
Bayangkan ngobrol dengan teman lewat chat vs ngobrol langsung. Ngobrol lewat chat punya tantangannya sendiri, kan? Sinyal bisa putus, pesan bisa telat, atau urutannya berantakan. Begitu juga dalam sistem terdistribusi, tantangannya antara lain:
- Latensi (Keterlambatan): Butuh waktu bagi pesan untuk sampai dari satu proses ke proses lain.
- Keandalan Jaringan: Jaringan bisa saja down atau kehilangan paket data.
- Konsistensi: Memastikan semua proses memiliki pandangan data yang sama
- Keamanan: Komunikasi yang melalui jaringan publik rentan disadap atau diserang.
Karena tantangan inilah, dibutuhkan mekanisme dan protokol khusus untuk memastikan “obrolan” antar proses ini berjalan lancar dan terpercaya.
Metode-Metode “Ngobrol”: Protokol Komunikasi yang Umum Digunakan
Berikut adalah beberapa “bahasa” atau protokol yang umum digunakan proses-proses untuk berkomunikasi:
- Sockets (Socket Programming)
Ini adalah metode yang paling dasar. Bayangkan socket seperti dua telepon yang terhubung. Satu proses (server) memasang “telepon” dan menunggu panggilan. Proses lain (klien) “menelepon”-nya. Setelah terhubung, mereka bisa saling mengirim aliran data mentah (raw bytes).
- Analogi:Seperti mengirim surat melalui pos tanpa format baku. Si pengirim dan penerima harus sepakat sendiri tentang format isi suratnya.
- Kelebihan:Sangat fleksibel.
- Kekurangan:Low-level, programmer harus mengurus banyak hal secara manual.
- Remote Procedure Call (RPC)
Ini adalah metode yang lebih tinggi levelnya dan sangat populer. RPC memungkinkan sebuah proses memanggil fungsi atau prosedur yang sebenarnya berjalan di proses lain, seolah-olah itu adalah fungsi lokal.
- Analogi:Bayangkan kamu bisa menyuruh asisten di kantor lain untuk mencetak dokumen hanya dengan memencet tombol “print” di komputermu, tanpa perlu tahu caranya dia mengoperasikan printer di sana.
- Kelebihan:Abstraksi yang tinggi, memudahkanprogrammer.
- Kekurangan:Bisa kompleks untuk debugging karena eksekusi kode terjadi di mesin yang berbeda. Contoh modern dari RPC adalah gRPC yang dikembangkan oleh Google dan banyak digunakan di mikroservis.
- Message-Oriented Middleware (MOM) / Message Queues
Dalam model ini, proses-proses tidak berkomunikasi langsung. Mereka mengirimkan pesan ke sebuah “perantara” (biasanya antrian atau queue). Proses penerima akan mengambil pesan dari antrian tersebut.
- Analogi: Seperti menggunakan aplikasi chat seperti WhatsApp. Kamu mengirim pesan, dan pesan itu disimpan oleh server WhatsApp. Temanmu akan menerima pesan itu ketika dia online, meskipun saat kamu kirim dia sedang offline.
- Kelebihan: Loose coupling (ketergantungan rendah), dapat menangani beban yang tidak seimbang, dan sangat andal.
- Kekurangan: Menambah kompleksitas karena harus mengelola middleware-nya. Contohnya adalah RabbitMQ, Apache Kafka, dan Amazon SQS.
Kapan Menggunakan Metode yang Mana?
Pemilihan metode tergantung pada kebutuhan aplikasi:
- Gunakan Sockets jika kamu butuh kendali penuh dan performa sangat kritis.
- Gunakan RPC/gRPC untuk arsitektur mikroservis di mana kamu ingin memanggil fungsi di servis lain dengan mudah, seperti layanan backend memanggil layanan autentikasi.
- Gunakan Message Queues untuk tugas-tugas yang membutuhkan decoupling, penanganan beban tinggi, dan ketahanan, seperti mengirimkan notifikasi email kepada jutaan pengguna.
Kesimpulan
Komunikasi Antar Proses adalah nyawa dari sistem terdistribusi. Tanpa mekanisme ini, mustahil bagi kita untuk menikmati layanan modern yang real-time, andal, dan terukur seperti yang kita gunakan sehari-hari. Mulai dari socket yang sederhana hingga message queue yang kompleks, pemahaman tentang bagaimana proses-proses ini “ngobrol” adalah kunci untuk membangun sistem yang tangguh di era cloud computing ini.
Semoga artikel singkat ini bisa membuka wawasan! Kalau ada pertanyaan atau ingin diskusi lebih lanjut, tinggalkan di kolom komentar ya!
—
Penulis: Ahmad Latif, M.Kom, dosen Teknik Informatika Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap
Editor: Muhamad Ridlo
Sumber Referensi:
- Tanenbaum, A. S., & Steen, M. V. (2016). Distributed Systems: Principles and Paradigms (2nd ed.). Maarten van Steen.
- MDN Web Docs. (2023). WebSockets API. Retrieved from https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Web/API/WebSockets_API
- gRPC. (n.d.). gRPC Documentation. Retrieved from https://grpc.io/docs/
- RabbitMQ. (n.d.). Documentation. Retrieved from https://www.rabbitmq.com/documentation.html









