Banner Tarik Pameran Elektronik dan Teknologi Modern Biru dan Merah Muda (1)
previous arrow
next arrow

Tips Mahasiswa Hadapi Tugas Mata Kuliah Numpuk, dari Dosen Matematika UNIKMA Cilacap

Unikma.ac.id – Setiap mahasiswa pasti pernah berada pada fase ketika tugas terasa datang bertubi-tubi, seperti […]


Unikma.ac.id – Setiap mahasiswa pasti pernah berada pada fase ketika tugas terasa datang bertubi-tubi, seperti gelombang yang tidak memberi jeda. Pada titik ini, banyak yang merasa kewalahan, kehilangan fokus, bahkan bingung harus mulai dari mana. Padahal, kemampuan mengelola beban akademik justru menjadi salah satu kompetensi penting di perguruan tinggi. Bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi bagaimana menjaga kualitas berpikir, kesehatan mental, dan ketajaman intelektual.

Langkah pertama untuk menghadapi tugas yang menumpuk adalah memahami bahwa tidak semua tugas memiliki bobot yang sama. Mahasiswa produktif biasanya memulai dengan membuat peta prioritas, memisahkan mana tugas yang mendesak, mana yang membutuhkan konsentrasi tinggi, dan mana yang dapat diselesaikan dengan pola kerja singkat. Pendekatan ini membantu mengurangi kecemasan sekaligus memberi arah yang jelas saat memulai.

Kedua, penting bagi mahasiswa untuk membangun ritme kerja yang realistis. Banyak mahasiswa terjebak pada ambisi menyelesaikan semua tugas dalam satu kali duduk, padahal fokus manusia memiliki batas. Interval belajar terarah, seperti teknik Pomodoro, bukan sekadar tren, tetapi mekanisme ilmiah untuk menjaga daya tahan kognitif. Dengan bekerja dalam potongan waktu yang terstruktur, mahasiswa melatih pikiran untuk tetap stabil dan tidak mudah kelelahan.

Ketiga, kreativitas menjadi penyelamat dalam kondisi penuh tekanan. Terkadang tugas terasa menumpuk bukan karena jumlahnya, tetapi karena pendekatan yang kurang fleksibel. Mahasiswa kreatif sering menemukan cara alternatif, memvisualisasikan ide, membuat mind map, berdiskusi singkat dengan teman, atau memanfaatkan aplikasi digital untuk mempercepat proses. Ketika strategi belajar berkembang, beban tugas terasa lebih ringan.

Keempat, mahasiswa tidak boleh mengabaikan komunikasi. Jika tugas terasa benar-benar tidak sebanding dengan waktu yang tersedia, tidak ada salahnya berbicara dengan dosen. Dunia akademik dibangun di atas dialog intelektual, bukan keheningan penuh tekanan. Banyak dosen memberikan ruang penyesuaian ketika mahasiswa menunjukkan i’tikad baik dan penjelasan yang rasional.

Akhirnya, mahasiswa perlu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan diri. Tugas penting, tetapi tubuh dan pikiran yang sehat jauh lebih penting. Tidur cukup, bergerak, dan menjaga pola makan bukan sekadar anjuran hidup sehat, tetapi bagian dari strategi akademik jangka panjang. Tanpa itu, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas akan menurun drastis.

Menghadapi tugas mata kuliah yang menumpuk bukan hanya soal manajemen waktu, tetapi juga manajemen pikiran. Mahasiswa yang mampu mengatur strategi, beradaptasi, dan tetap tenang di tengah tekanan biasanya berkembang menjadi individu yang lebih kuat secara akademik dan profesional. Di sinilah pendidikan sejati bekerja, tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi ketangguhan.

Ingin mengembangkan strategi belajar yang lebih efektif dan membangun kapasitas akademik yang kuat?
Bergabunglah bersama Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Komputama, tempat Anda dibimbing untuk menjadi mahasiswa yang cerdassecara konsep, tangguh dalam proses, dan kreatif menghadapi tantangan akademik.

*Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah

Sumber Referensi:

1. Baddeley, A. (2017). Working Memory and Learning. Psychology Press.

2. Covey, S. (2020). The 7 Habits of Highly Effective People. Simon & Schuster.

3. Newport, C. (2016). Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World. Grand Central Publishing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *